Hunian Vertikal untuk Ledakan Populasi (2)
SEBAGAI kota dunia, Makassar tidak boleh menjadi kota kumuh. Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sulawesi Selatan, Halim Kalla, yang juga merupakan pengusaha properti di Indonesia, memiliki solusi. Menurut Halim, mulai sekarang Makassar sudah harus merancang jenis pemukiman yang cocok dengan kebutuhan perkembangan kota. Jenis pemukiman yang di satu sisi tetap mengakomodir keberadaan penduduk, tapi di sisi lain tetap menjamin kota nyaman dihuni (Halim Kalla dalam Seminar Makassar 2025 Kembali ke Kota Dunia, di Makassar, Sabtu 16 Februari 2008).
Bagaimana rencana pemukiman masa depan? Menurut Halim, pemukiman untuk kota besar adalah pemukiman vertikal, yaitu pemukiman dengan orientasi pertumbuhan ke atas, bukan ke samping. Dalam beberapa tahun ke depan, strata tittle akan menjadi solusi yang jitu untuk masyarakat perkotaan. Menjawab dua hal sekaligus, yaitu keterbatasan lahan dan ketersediaan ruang terbuka hijau.
Tetapi masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan umumnya memiliki ciri khas gaya hidup yang harus diperhatikan. Dalam pandangan Halim, masyarakat Bugis Makassar selalu ingin bersosialisasi karena watak kekerabatannya yang kental. Masyarakat selalu ingin hidup bertentangga. Hal ini selalu terus terjadi kendati serbuan teknologi yang mengindividualisasi manusia masuk ke dalam sendi-sendi masyarakat Bugis-Makassar. Watak asli masyarakat komunal tetap tidak bisa luntur.
Masyarakat Bugis Makassar selalu ingin duduk duduk dengan tetangga sambil berbincang bincang. Jika ada keluarga yang datang, mereka bisa berbagi tempat di rumahnya. Adalah tidak sopan bagi masyarakat Bugis-Makassar untuk meminta keluarga yang berkunjung bermalam di hotel. Biarpun akan menjadi sempit karena banyak orang, keluarga yang berkunjung tetap tidur dalam satu rumah. Masyarakat Bugis Makassar tidak terlalu mengedepankan privasi. Dengan bersama mereka merasa lebih nyaman.
Namun pemukiman vertikal umumnya tidak mengakomodir gaya hidup dengan kekerabatan yang kental. Pemukiman vertikal memiliki rancangan, atau dengan sendirinya terbentuk sebagai tempat hunian, yang memiliki tingkat privasi yang tinggi. Jangankan untuk bertegur sapa antara satu lantai dengan lantai lainnya, berkenalan dengan tetangga satu lantai pun barangkali jarang terjadi. Penghuni apartemen lebih kerap berhubungan dengan satpam atau petugas security dari pada dengan tetangganya sendiri.
Bagi Halim, pemerintah kota dan pelaku bisnis properti yang masuk ke Makassar harus memperhatikan aspek kekerabatan ini. Atau dengan sendirinya pemukiman vertikal yang sudah dibangun dengan biaya mahal itu akan ditinggalkan. Salah satu cara agar watak kekerabatan ini diakomodir adalah dengan membuat pemukiman vertikal yang tidak terlalu tinggi. Paling banyak hanya lima lantai. Juga harus disediakan koridor koridor yang membuat warga nyaman untuk bersosialisasi.
Satu hal lagi yang harus diperhatikan terkait dengan pemukiman warga perkotaan. Kehidupan di kota besar menjadi sangat tidak nyaman dan berbiaya tinggi. Karena itu, sangat jarang pemukiman vertikal dibangun di daerah yang jauh dari fasilitas publik. Demikian juga pemukiman untuk warga Makassar. Harus dekat dengan pelayanan publik. Dekat dengan mal, taman, bioskop, mesin ATM, dan sebagainya. Jadi warga cukup berjalan kaki untuk menuju tempat tempat tersebut.
Dengan demikian, perencanaan letak pemukiman juga sangat terkait dengan tata kota. Makassar tidak akan menghadapi masalah keruwetan transportasi manakala dapat menempatkan pemukiman vertikal pada posisi yang dekat dengan pelayanan publik. Atau pemerintah dapat mendistribusikan pelayanan publik secara merata di setiap sudut kota tempat warga bermukim.
Pemerintah sebenarnya juga telah menyadari pentingnya hunian vertikal untuk mengatasi ledakan populasi di perkotaan. Hingga tahun 2007 lalu, pemerintah telah membangun lima twin block rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Makassar yang ditempatkan di Mariso dan Daya.
Terdapat kurang lebih 500 keluarga yang menempati rusunawa tersebut. Tahun 2009 hingga 2014, sebanyak empat twin block lagi akan dibangun di Mariso dan Daya selain beberapa rumuah susun yang dibangun untuk mahasiswa.
Ke depan, menurut Halim, pembangunan hunia vertikal bukan hanya berorientasi mengubah kawasan kumuh menjadi kawsan sehat, melainkan untuk mengeliminir terbentuknya kembali kawasan kumuh. Hunian vertikal juga harus dibangun dengan memperhatikan unsur kenyamanan huni dan estetika. Karena ledakan populasi bersifat pasti, kebutuhan akan hunian vertikal di Kota Makassar menjadi tidak terbantahkan.(*)
0 comments:
Post a Comment