Friday, January 15, 2010

Kota Besar, Angkutan Massal (1)

SUNGGUH indah membayangkan sebuah kota bersih dengan lalu lintas yang teratur. Pohon rimbun tumbuh di tepi jalan dan tingkat polusi sangat rendah. Dalam beberapa tahun ke depan, Kota Makassar diyakini akan mengalami transformasi dalam hal transportasi. Moda transportasi publik yang ada saat ini akan menjadi lebih manusiawi dan ramah lingkungan.

Makassar saat ini umumnya mengalami problematika transportasi seperti umumnya kota-kota besar di dunia. Kemacetan selalu terjadi pada setiap jam sibuk. Populasi kendaraan bermotor membludak nyaris tanpa terkendali. Sementara banyak jalan raya telah mencapai tingkat jenuh yang tinggi di mana jumlah kendaraan yang melaluinya nyaris melebihi kapasitasnya.

Macet Parah
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Kota Makassar dalam beberapa tahun terakhir sangat pesat. Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sulawesi Selatan, Lambang Basri Said, mengatakan, laju pertumbuhan kendaraan roda empat di Kota Makassar mencapai enam hingga tujuh persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan kendaraan roda dua atau sepeda motor sampai 18 persen per tahun.

Di sisi lain, laju pembangunan infrastruktur jalan raya hanya satu persen per tahun. Sangat tidak seimbang. Idealnya dengan tingkat pertumbuhan kendaraan yang begitu pesat, tingkat pertumbuhan jalan harus mencapai minumal dua persen per tahun.

Sedangkan kantor Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Makassar mendata, pada tahun 2008 lalu penjualan mobil di Kota Makassar mencapai 10.454 unit. Meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun 2005 yang hanya sebanyak 8.411 unit. Sementara angka penjualan sepeda motor pada tahun 2008 mencapai 18 ribu, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 17 ribu unit.

Angka ini diperoleh berdasarkan kepemilikan BPKB (bukti pemilikan kendaraan bermotor) yang dikeluarkan oleh Kantor Samsat Makassar (Tribun Timur; Inilah Mobil Paling Dicari di Makassar; Januari 2009). Sebagian kendaraan bermotor itu memang dibeli untuk digunakan di luar Kota Makassar. Namun lebih setengah jumlah tersebut beroperasi di kota ini.

Peningkatan drastis jumlah kendaraan bermotor ini telah mengakibatkan kemacetan dan polusi udara sebagai dua masalah utama yang umumnya dimiliki kota-kota besar di Indonesia. Dinas Perhubungan Kota Makassar, dalam sebuah hasil penelitian yang dilansir tahun 2006, menyebutkan, tingginya angka perjalanan di Makassar membuat ruas-ruas jalan tertentu mulai mendapat beban yang berat.

Berdasarkan angka statistik 2006, panjang jalan menurut fungsinya di Kota Makassar adalah 1.593,46 kilometer. Hasil Penelitian di 36 titik jalan itu di Makassar menunjukkan bahwa ada 12 titik (33,33 persen) ruas jalan yang mengalami derajat kejenuhan di atas 50 persen. Artinya, pada titik-titik tersebut kecenderungan untuk macet dan terkonsentrasinya pencemaran udara dari kendaraan bermotor menjadi besar.

Beberapa ruas jalan tersebut adalah Jl Sultan Alauddin dengan derajat kejenuhan 0,54 dengan 5.880 unit kendaraan yang melintas per jam, Jl Abdullah Daeng Sirua 0,68 dengan 1.397 unit kendaraan melintas per jam, Jl Perintis Kemerdekaan 0,53 dengan 5.880 unit kendaraan melintas per jam, dan Jl Tentara Pelajar 0,50 dengan 3.135 unit kendaraan melintas per jam.

Derajat kejenuhan tertinggi dialami Jl Veteran Selatan yaitu 0,73 dengan 3.659 kendaraan melintas per jam dan Jl Urip Sumoharjo yaitu 0,84 dengan 2.816 unit kendaraan melintas per jam. Derajat kejenuhan diukur pada skala 0 hingga 1 berdasar perbandingan antara jumlah kendaraan yang melintas dan luas/lebar jalan. Artinya, angka 0,5 ke atas menunjukkan derajat kejenuhannya mencapai 50 persen lebih. Jl AP Pettarani pada tahun 2006 memiliki derajat kejenuhan sebesar 0,40 dengan 4.704 kendaraan melintas per jam. Namun agaknya pada tahun 2009 ini derajat kejenuhan jalan utama tersebut meningkat drastis karena beberapa titik mengalami kemacetan pada jam sibuk.(Bersambung)

0 comments:

  © Blogger template 'Portrait' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP