Kota Besar, Angkutan Massal (2)
PERAN transportasi, menurut pakar transportasi dari Fakultas Teknik Univesitas Hasanuddin, Prof Dr Yamin Tjinca, adalah mendorong perkembangan wilayah. Jika jaringan transportasi bagus dan infrastruktur baik, maka akan tercipta aksesibilitas yang besar. Waktu dan biaya mobilitas orang dan barang akan semakin berkurang. Pada akhirnya bakal terjadi perkembangan wilayah dan ekonomi yang positif.
Di sisi yang lain, jika wilayah berkembang maka kebutuhan akan moda transportasi akan membesar. Dalam hal ini, Kota Makassar sudah mencapai keduanya. Karena itulah kota ini butuh perkembangan, sekaligus sebagai wilayah yang sudah berkembang butuh transportasi yang baik (Prof Dr Yamin Tjinca dalam Seminar Makassar 2025 Kembali ke Kota Dunia, di Makassar, 16 Februari 2008).
Dalam kerangka transportasi nasional, Makassar merupakan simpul dari pergerakan orang dan barang antarkawasan di Indonesia. Kota ini merupakan simpul transportasi laut dan udara. Sayangnya untuk transportasi laut, permintaan (demand) masih rendah. Sehingga pergerakan orang dan barang cenderung satu arah. Kapal pergi cenderung penuh, sementara pulang cenderung kurang muatan. Karena itu pula, pemerintah pusat lebih condong memilih Pelabuhan Bitung dijadikan sebagai pelabuhan internasional, ketimbang Pelabuhan Makassar.
Kebalikannya untuk transportasi udara. Demand tinggi tetapi supply sangat terbatas. Pergerakan penumpang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sangat tinggi, sementara sarana dan prasarananya masing sangat terbatas. Ini telah coba dijawab dengan pengembangan bandara.
Bagaimana dengan transportasi darat? Makassar saat ini telah dikategorikan sebagai kota metro dengan penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa. Makassar adalah satu-satunya kota metro di Indonesia timur. Karena itu kota ini sangat membutuhkan sarana dan prasarana transportasi yang terintegrasi. Integrasi intermoda darat-laut dan darat-udara harus secepatnya diwujudkan. Termasuk di dalamnya adalah jaringan jalan yang mendukung integrasi intermoda itu.
Jika tidak, maka kota ini akan sulit mengalami perkembangan. Masalah yang dihadapi Makassar saat ini adalah sulitnya mengendalikan moda transportasi jalan (darat). Memang, transportasi jalan paling rewel. Bagaimana terjadi integrasi antara petepete dan becak misalnya belum bisa diwujudkan. Becak jalan sendiri, petepete jalan sendiri.
Transportasi sangat berhubungan erat dengan tata ruang. Dasar pemikirannya, kegiatan atau mobilisasi orang dan barang harus didukung dengan minimalisasi waktu dan biaya. Ini membutuhkan infrastruktur, penataan rute, dan pemilihan moda transportasi yang tepat.
Saat ini, paling tidak warga menghabiskan waktu enam jam dalam sehari di dalam petepete. Itu artinya, jika usia orang 80 tahun, dikurangi waktu tidurnya, maka setiap orang menghabiskan waktu 30 persen dari hidupnya di dalam petepete. Dari segi biaya, rata-rata 25 persen dari pendapatannya (yang dihitung berdasarkan upah minimum regional) dihabiskan hanya untuk petepete. Ini menggambarkan, betapa Makassar merupakan kota yang mahal (high cost city) dan tidak efisien waktu. Makassar kota yang tidak nyaman.
Karena itu, pembangunan infrastruktur dan penataan rute transportasi umum harus bisa meminimalisir jarak. Dengan demikian juga dapat meminimalisir waktu dan biaya. Sementara tata kota harus dapat memunculkan daya tarik antarkawasan sehingga menstimulasi pergerakan moda transportasi.
Kecenderungan kota besar adalah infrastruktur minim tapi transportasi banyak. Kota Makassar pun cenderung demikian. Ada dua pendekatan untuk mengatasi masalah ini. Pertama, pendekatan konvensional yaitu membangun fisik melulu. Kalau ini yang jadi ujung tombak penataan bisa jadi memunculkan masalah sosial. Kedua, pendekatan manajerial yaitu manajemen transportasi dengan menurunkan tingkat pergerakan dan jumlah.
Kendaraan pribadi saat ini paling diminati. Maklum, dengan kendaraan pribadi, penggunanya tidak terbatas waktu, kapan saja mau digunakan bisa dilakukan. Dengan kendaraan pribadi juga sang pemilik bisa mengantar dan diantar dari pintu kantor ke pintu rumah. Juga sebuah prestige dan dinilai lebih aman.
Masalahnya, mana mungkin orang tertarik menggunakan angkutan umum jika harus berlama-lama di dalamnya, sumpek pula. Sementara, populasi kendaraan pribadi yang tidak terkendali akan menjadikan pergerakan di Makassar stagnan dalam beberapa puluh tahun ke depan. Bukan hanya kemacetan, dampak dari sisi lingkungan juga akan dirasakan.(Bersambung)
0 comments:
Post a Comment